Pilih Laman

Nampaknya sebuah statement “my plan is unplan” dari sahabat saya benar adanya. Sebuah rencana tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana, apalagi rencana yang dibarengi sama ekspektasi yang berlebihan.

Suatu hari saya mampir ke Ponpes Nurul Huda, Langgongsari tempat dimana saya menimba ilmu kehidupan. Tetiba disana langsung disambut makan siang. Disela-sela makan siang tetiba Gus Abror (pendiri ponpes enha) beliau menawarkan saya untuk ikut ziarah ke Ardilawet, Panusupan, Purbalingga. Sejenak berpikir dan mengingat tahun 2017 pernah kesana dengan beliau (Gus Abror), nah yang ada dalam bayangan saya dipuncak Ardilawet penuh dengan ketenangan, hening dan membuat pikiran menjadi jernih.

Beberapa waktu berpikir, akhirnya diputuskan untuk ikut sore itu juga bersama sahabat saya mamad, cubbo dan ugif. Kami berlima berangkat dari Purwokerto siang menjelang sore. Sesampainya disana otak saya langsung berpikir nanti malam ketika sampai puncak pengin mengulang suasana 2017. Duduk, doa, memantapkan hati, menjernihkan pikiran dalam suasana yang begitu tenang.

Yess, kami berangkat naik kepuncak setelah sholat maghrib, makan dan langsung cuss naik. Disepanjang jalan sambil nafas terengah-engah canda tawa hampir tak pernah berhenti. Sampai perut kembali dikocok dan alhasil rasa lapar melanda. Kemudian munculah ekspektasi lagi bahwa nanti setelah diatas masuk warung beli indomie goreng pakai telor dan nasi putih hangat. (Kebayang banget deh betapa nikmatnya).

3 jam berjalan kaki menaiki perbukitan dimalam hari sungguh hal yang sering saya rindukan, teringat sewaktu SMA sering naik gunung dengan teman-teman sekolah. Yess, tetiba di pos 2 mampirlah ke sebuah warung pesan kopi dan ada pisang goreng panas. Masya Alloh betapa nikmatnya, kembali lagi ekspektasi semakin meningkat, nanti diatas makan Indomie goreng pakai telor dan nasi,…

Di pos 3 kemudian kami berhenti sejenak berhenti dikegelapan, istirahat dan sedikit diskusi dengan Gus Abror sambil menikmati indahnya kelap-kelip, hiruk pikuk dibawah sana Kota Purbalingga. Badan sudah mulai loyo, tapi kembali lagi ekpektasi ketika 2017 kesini itu bisa menenangkan jiwa. Oke fine kita jalan lagi naik,…

Begitu sampai di pemberhentian terakhir, beliau Gus Abror mengajak kami untuk sholat Isya kemudian makan. Horeeee indomie goreng telor,…

Begitu masuk warung langsung pesan indomie pak pakai telor yaa… “maaf mas gak ada telor” mendengar jawaban itu mental sudah mulai drop, dalam hati sudah berkata aduh gak ada telor gak enak lahh, yowess pak dibikin aja indomie nya.

Begitu matang langsung disuguhkan, begitu sampai dihadapan saya nafsu makan kemudian berubah menjadi malas makan melihat mie instan yang disandingkan bukan indomie sesuai apa yang saya pikirkan. Ini mie instan merek lain (maaf gak sebut merek takut kesinggung yang punya merek). Oke baiklah daripada harus menahan lapar, tetap saya makan, namun beberapa sendok saja perut dan tenggorokan sudah mulai protes karena memang gak cocok dengan merek mie instan itu. Akhirnya saya kasihkan ke teman sebelah saya untuk dihabiskan. Ini ekspektasi yang gagal pertama.

Lalu, setelah makan selesai, sedikit ngobrol, kemudian Gus Abror mengajak kami untuk tidur di aula depan mushola dan bangun subuh terus sholat dilanjut wiridan sampai terbit matahari. Dalam hati langsung, aduhh kok gak naik ke petilasan atas yaa, padahal dalam hati sebelum berangkat ekspektasinya di petilasan kepengin menenangkan suasana hati dan pikiran dari hiruk pikuknya ngurusin bisnis.

Ahhhh, sudahlah akhirnya saya ikuti saran beliau untuk tidur. Menjelang tidur masih kebayang-bayang betapa nikmatnya di tahun 2017 ruang petilasan begitu nikmat dan menikmati suasana hening tengah malam. Tidur gak nyenyak ditambah suara kenalpot harr hooorr bunga tidur dari sahabat-sahabat saya.

Okeeee, waktu subuh telah tiba, kami ambil air wudhu kemudian sholat subuh dilanjut wirid tepat di gerbang pintu bawah yang menuju petilasan. Ketika wiridan itu kok suasanya sama seperti ketika tahun 2017 ketempat ini. Wowwww banget ini,…

Dari perjalanan itu saya belajar banget, bahwa yang namanya ekspektasi itu bisa saja terjadi tapi dalam kondisi ruang yang berbeda dari apa yang kita harapkan. Catatan pentingnya adalah soal pola pikir, bagaimana otak kita berpikir kita akan selalu digiring dengan persepsi yang ada di otak kita. Tapi sebenarnya hati kita juga yang merasakan dengan baik. Hati juga yang pada akhirnya melengkapi dari bayangan yang ada di otak kita.

Sejajarkan pola pikir dengan hati, biar bisa hidup lebih nikmat, tenang dan jernih dalam setiap mengambil keputusan apapun,…

Salam sukses selalu buat kita semua,…